Saat ini, bersamamu..

Waktu ini, bersamamu..

Meski banyak hal yang belum kita lalui, namun ketahuilah, aku benar ingin melalui semua didepan bersamamu.. Aku ingin melihat aku, melihat kamu, di masa depan kita.. Aku ingin mengucapkan selamat pagi kepadamu walau hanya melalui pesan singkat. Aku mau memberi semangat pagi padamu sebelum kau mulai beraktifitas. Aku mau menanyakan apa sarapanmu pagi ini. Aku mau menanyakan apa yang kau makan untuk makan siang. Aku ingin menanyakan dengan siapa kamu makan siang. Bagaimana harimu, makan malam apa, mau cerita apa, rindukah hari ini padaku, lelahkan kamu hari ini, hingga selamat malam.

Waktu ini, bersamamu..

Aku belajar untuk saling menerima dan memberi. Karena untuk mencintai kita tidaklah seharusnya terus menerima, tetapi juga memberi. To love means to accept and give. To know you more means I have to be ready to fight together with you. In loving, we need to have argument. We need to talk. We need to get mad. And… we need to forgive each other. So far, pertengkaran-pertengkaran itu mengajarkan kita untuk tetap kembali. Karena umur kita masih seumur jagung, banyak saat ini yang harus kita pelajari.

Waktu ini, bersamamu..

Aku ingin menjadi satu-satunya wanitamu. Wanita yang ada dibelakangmu, mendukungmu, dalam doa dan pengharapan. Aku ingin membangunmu, menemanimu, menjagamu, merawatmu ketika kamu mulai terlihat lelah, mendukungmu, menyemangatimu, membantumu, memberi semua yang aku bisa, memotivasimu, dari titik nol. Aku ingin bersamamu, saat ini. Apa yang kau rasa mustahil, ketahuilah, semua itu hanya sedekat doa sayang. Aku disini, didekatmu, menggandengmu, tidak pernah ingin melepasmu.

Waktu ini, bersamamu..

Aku mengerti, semua tak bisa instan. Namun aku sangat menghargai perubahan kecil darimu. Waktu ini, yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berusaha bersama-sama. Berjanjilah, one day, we will make it!

 

20170209_175925.jpg
Karena semua tak harus selalu sempurna. Kitalah yang akan menyempurnakannya, pada waktunya.

 

 

I won’t give up on you

Menyerah adalah hal yang dilakukan seorang pengecut..

Menghadapinya setiap hari membuatku merasa semakin bertumbuh lebih dan lebih dewasa. Bercanda ria bersamanya menyenangkan hati yang sederhana ini. Candaannya tidaklah selalu menggelitik, namun entah apa yang aku lihat darinya selalu membuatku ingin dan ingin tetap tertawa ketika dia memulai pembicaraan. Aku tetap menyukainya dengan kepolosannya dalam bercanda, dalam diamnya dia karena memang begitulah dia. Bagaimana bisa dia terus dan terus membohongiku, walau hanya dalam gurauan. Aku tetap menyukainya dengan segala jam karetnya dia, yang kadang membuat perutku sakit karena menunggunya untuk menjemputku makan. Aku tetap menyukainya dengan segala bau kentutnya, yang kadang tidak dia tau kalau itu memang busuk haha. Aku tetap menyukainya bahkan ketika kaos kakinya basah dan kakinya berbau lebih tidak enak dari pada kentutnya. Aku tetap menyukainya dengan segala kemalasannya dalam mengerjakan tugas, yang bahkan aku harus mendorongnya untuk terus mengerjakannya dan kita berakhir dengan cencok satu dengan yang lain. Yahh, tugas kuliah pun membuat kita berantakan kadang.

Aku memang menginginkan seorang lelaki yang tidaklah pemalas, yang mau bertanggung jawab mengerjakan segala sesuatunya dengan cepat. Namun bukan berarti aku tidak menyukainya dan meninggalkannya secepat itu. Satu hal yang aku telah sadari, alas an mengapa aku menyukai dan menerimanya dengan mudah adalah, aku mau menerimanya apa adanya tanpa meninggalkannya seperti apa yang sudah terjadi pada lelaki lain sebelum dia. Aku sering meninggalkan seseorang hanya karena dia tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Ketika aku mulai melihat bahwa dia mempunyai satu saja kekurangan, aku tidaklah lagi mau menerimanya.

Kenapa aku menerima mu dan mengacuhkan segala kekuranganmu, sayang? Karena aku mengasihimu dengan tulus. Aku tidak menyerah hanya karena kau menunjukan satu bahkan banyak sekali kekuranganmu. Aku mau dirimu. Aku menyayangimu. Bagaimana aku bisa menerima dirimu, akupun tidak mendapat jawaban akan hal itu. Yang jelas, aku tidak akan pernah menyerah padamu.

Let’s grow up together

Aku masih ingat jelas bagaimana pertama kali tanganmu dan tanganku menjadi satu dalam genggaman yang terasa sangat canggung namun menggetarkan hati itu. Bagaimana jari-jari dari tangan kekar itu memasuki celah-celah jemari kecil ini. Iya, sangat membuat logika bodohku ini merasa canggung dan tak berdaya dalam genggaman tangan hangat yang kekar itu.

Sampai saat inipun masih sama, masih seperti waktu pertama kau genggam tangan kecil kasar ini. Aku sebisa mungkin takkan berubah. Bahkan dalam keadaan apapun kita, sesengit apapun tatapanmu padaku, sebesar apapun kesalahan yang kita akan buat kelak mungkin 1 atau 2 bulan kedepan, sekonyol apapun kita ketika kita berpura-pura kuat untuk mempertahankan ego masing-masing, semarah merah apa aku padamu, sejorok apa lagi hal-hal lain selain kentutmu, sebusuk apa bau kakimu, aku akan tetap sama. Sama seperti saat pertama tangan itu menyentuh tangan kecilku. Namun aku tidak ingin kau menganggapku berjanji untuk hal ini. Aku tak pernah suka berjanji, sayang. Aku takut mengecewakan dan dikecewakan untuk kedepannya. Biarlah kita mengalir, lihat dan hadapi tingkah konyol kita dimasa depan.

Dalam marahku aku tetap menginginkanmu. Dalam egoku aku tetap memayungimu. Dalam ricuhnya kita, aku tetap merasa takut kehilanganmu. Iya, aku selalu ingin berdamai denganmu tepat setelah aku marah padamu.

Kita masihlah semumuran bayi yang masih merah wajahnya dan menginginkan pelukkan ibunya untuk yang pertama kali. Kita masih merah merekah dan masih panjang jalan kedepannya. Tidak apa, setidaknya satu bulan ini sudah kita lewatkan bersama. Hanya perlu bertahan dan mempertahankan. Beradaptasi dengan aku dan kamu yang saat ini didepan mata. Kedepannya, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa dan setia. Jangan pernah berjanji untuk saling setia, tapi berjanjilah untuk kita bisa dan mau bertumbuh bersama. Gandenglah tangan kecil kasar dan logika yang belum sepenuhnya berjalan ini J

I am falling for you

Aku tau aku tidak selama mereka yang lain yang mengenalmu. Daun tidak pernah menyalahkan angin ketika ia jatuh. Aku tidak pernah menyalahkanmu ketika aku jatuh padamu. Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa aku masih mau berada disampingmu, menggandeng tanganmu dan bersandar di pundakmu yang kekar.
Waktu berjalan sangat amat cepat, kadang aku berpikir, terlalu cepatkah kita? Atau memang sengaja kita dipertemukan saat ini? Sekitar 3 tahun aku mengenalmu. Namun jarang bertegur sapa denganmu. Melihatmu, dulu, tidaklah menggetarkan hatiku seperti saat ini. Mengagumi eloknya wajahmu, hanya itu yang sempat terbesit dalam pikiran kecilku ini waktu dulu.

Hujan memang kejam, ia tidak pernah mau mengerti situasi dimana kita ingin saling memeluk. Aku suka tangan besar itu, jari-jari besar itu dan genggaman yang hangat itu. Aku suka ketika tanganmu berada dalam genggamanku. Masih jelas terasa bagaimana pertama kali kau menggenggam tanganku, yang kau bilang sangat kecil dan kasar ini. Entah apa yang terbesit dalam benakmu tentangku. Aku merasa sangat kaku dan malu. Karena semua tentangku tidaklah terlihat cantik. Kau bilang aku polos, dan kau melihatnya dengan matamu, ketika aku tidak berkutik sedikitpun dalam malunya ciuman waktu itu. Aku tak mengerti sayang, maafkan aku karena aku terlalu kaku ketika berada dalam pelukanmu. Seketika hatiku selalu berdebar sedikit demi sedikit dan semuanya kacau. Ya, sepolos itu aku ketika berhadapan denganmu.

Terimakasih untuk waktu-waktu ketika kau bersamaku. Tetaplah saling menyapa, menegur, mengingatkan untuk dapat berjalan kedepan. Jadikanlah masing-masing dari kita menjadi pribadi yang lebih baik untuk sesama.

WHY

Why?
Why you don’t need reasons to love. Why you can love someone unconditionally. Why you can love him for many years without seeing his face. Why you can fall in love with him who is not next to you. Why you miss him every night before sleeping. Why you think about him while you do know that he doesn’t. Why you spend your time to love someone who doesn’t love you. Why you can’t move on while he can. Why you can’t find somebody new while he has already had one. Why you still keep loving him. Why him. Why.

Why you are still in love while you know you are not loved.

Too much questions, actually. I swear I have no answers for those. If you ask me, then I just don’t know. It happens. For me, loving isn’t about taken only, or having someone next to us. Loving is about distance, broken heart, and being left. Many years spending time to love one person without being loved by, but you still do love him. Stupid? Yes of course. Move on? Has already been tried. Loving means failure. Fail of moving on.

Loving means caring, seeing and praying. I see him from this distance. I pray everytime i miss him. And of course, I care about him, whatever he does, it will catch my eyes.

It is tough. But I am trying to get used to it. Hope you are doing fine too.

SHE IS VERY WEAK

Well it’s been several years
She keeps following her feeling
Praying for someone without being prayed
Closing her door for another men
Seriously she cares too much
She should not do
Seeing someone without being seen
Giving applause without being applaused
Closing her door without looking for the future
She is so small, weak and no power
Not too strong for this world

Facing him makes her fly around the sky
Getting his replay makes her day
She never forgets
Those days she’s spent
Both in the past and in the present
Even the past gives too much love
The present seems the opposite
She still stays

Are You Feeling Blue?

My beloved queen
My little princess
Never want to see you in a blue
Which very different with the sky
So far with the sea
Are you feeling blue?
I am a big liar if I do not say I am
Since the time he left me

My beloved queen
You used to live well
In many colors
You used to like red as your dress
Brown as your shoes
Black as your hair
White as your soul
But my beloved queen
Why choosing blue instead of red, brown, black and white?

My little princess
Life is not easy, right?
To see the North from the South
To continue when you have no blood in your body
Do not ever say
That you are in blue
You used to be a happy star
Shining and beautiful
Why showing your blue?

Come, help me this time, everyone
Let us bring back the past
The time we were together
All of us, including our hero
Our colors in life
Our beautiful sky and sea
I do love you

No, never want it happen
The blue, sadness, disappointment
Let us start it
From the very zero
Let us find our smiles
That hidden by the blue
‘cause losing our beloved hero

A Poem to Daddy

You left me without saying any word
It is more serious that the Titanic
When I am just about in my third year of college

Life is getting harder and harder
Only me
Only mine
Only my world
Only my scope
Finding a motivation in myself
Just like finding the oxygen in the water

I am growing up now
I am showing you now
Can you hear me screaming?
To your hanging picture
The only way for showing my everything
With tears which never stop
Falling on my cheeks

Never mind not to talk to you
Just need to be listened
Wishing you were here
Like the other daddy
Hold their child close and closer
I see they have their world
Which it is too far from my view
Who holds my hand?
Who takes care of me?
Who’s my world?

I am a liar
If I do not cry
Saying I am not missing you
Staying strong
A big lying

This room is too big
For a little girl who are growing up
Needs her big hero
To bring back her smile
When she looks into the hanging picture
Of her family

Missing your warming touch
For seeing you is not a possibility
But no
It is a possibility
Do not want to wake up
Do not even wake me up
When I am smiling in my sleeping
For that is the only way to meet you
In the transitory life
In the unreal life
No matter what
I do not want to be woken up

Manusia

Sepintar-pintarnya manusia, mereka tetap tidak akan pernah tau mengenai beberapa hal seputar kehidupan mereka. Kematian, jodoh, misalnya, tidak akan pernah mereka temukan setinggi apapun tingkat pendidikan mereka.

Manusia hanyalah manusia. Seberapa besar engkau, wahai manusia, sehingga engkau berani menyombongkan dirimu masing-masing dihadapan sesamamu? Jika kau mau melihat, lihatlah sesamamu, yang berwujud sama sepertimu, hai manusia, lihatlah dari atas gedung berlantai 50, atau 100, atau berapa, betapa kecilnya manusia yang sombong ini.

Kematian, siapa yang siap mati saat ini? Jika Tuhan menanyaimu, siapkah engkau bertemu denganNya, siapkah engkau? Misteri Tuhan begitu dalam, begitu susah, bahkan sampai jenjang profesor pun kelak pendidikanmu, tak akan mampu engkau meneliti misteri Tuhan ini. Tentang bagaimana bisa manusia diciptakan dam lantas mati begitu saja, apa yang terjadi ketika manusia mati, dimana mereka, apakah yang mereka lakukan, ingatkah mereka akan kita yang hidup didunia ini, apakah mereka bertemu dengan sang Pencipta, apakah mereka masuk neraka atau surga, apakah mereka, bagaimana mereka…

Tentang semua hal itu, kitab-kitab suci didunia ini mengajarkan kita. Tentunya ketika kita berbuat baik dan mengenal sang Pencipta kita, kita kelak akan masuk kedalam kerajaanNya.

Kembali lagi, terlepas dari ajaran agama masing-masing, sebagai manusia yang sangat kecil ini, kita takkan pernah bisa menelah maksud dan tujuan Tuhan dengan otak kita yang sangat lebih kecil ukurannya dari pada badan kita ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah berbuat baik, menabung kebaikan, menabur yang baik, kelak agar kita dapat melihat dan menyaksikan dengan mata rohani kita, mengenai perkara-perkara yang saat ini tidak kita pahami.

Bahagiaku yang Sederhana

Sore ini, seperti biasanya. Hari minggu yang dihabiskan hanya dirumah. Tidur Siang sekarang menjadi rutinitas wajib untuk dilakukan karena liburan ini benar-benar tidak terasa menyenangkan. Entahlah, hati ini masih sesak rasanya. Masih terdapat amarah dan kekesalan dalam hari-hari ini. Melepaskan menjadi sebuah pelajaran berharga untuk orang-orang kuat seperti aku yang sekarang ini.

Sore ini, tanpa aku menyadarinya, kesedihan yang menetap pada hatiku tergantikan perlahan ketika aku melihatnya bermain basket (lagi). Sekali dua kali aku memegang bola basket, aku le km par, aku pegang dan aku lempar. Kakiku berjalan pelan menghitung langkah dan dengan bisikan lembut bibirku mengucapkan sepatah dua patah kata, “dia datang, ngga datang, datang, ngga datang, datang, ngga, datang, ngga..

Sembari melupakan apakah dia datang atau tidak, aku melatih fokus ku untuk memasukkan bola dalam ring. Aah sudah lama sekali aku tidak bermain basket rasanya..

Sesaat ketika aku mengambil bola yang lari menjauh dari ring itu, saat itu dia datang. Entahlah, perasaan berdebar itu selalu hadir selama 5 tahun terakhir ini. Perasaan berdebar ketika melihat dia, dia yang telah menjadi kekasih wanita itu. Satu hal yang selama ini masih teringat, ketika aku dan dirinya selalu bermain basket dan melihat satu dengan yang lain, memberi semangat ketika salah satu dari kami sedang bermain dalam kompetisi, mendoakan satu dengan yang lain untuk mempersiapkan kemenangan, menjadi seorang yang mengulurkan tangannya memberi minum dan handuk untuk mengusap keringat, menjadi satu-satunya supporter terbaik baginya. Iya, 5 tahun yang lalu kita berkencan, kata orang-orang itu.

Sore ini, walaupun agak sedikit gelap, aku melihat wajahnya kembali, melihat tangannya yang dulu sangat lincah ketika memegang bola basket itu, melihat kaki nya yang gesit ketika berlari membawa bola itu, melihat kekar nya dada nya untuk menghalangi lawannya. Iya, petang ini, dia kembali mendebarkan hatiku.

Aku berterimakasih untuk Andika, sahabat basketku, yang membiarkan aku bermain di tim yang sama dengannya, lelaki yang mendebarkan hatiku itu. Entah bagaimana bisa, aku terus memanggil namanya, sebenarnya ada kesenangan tersendiri ketika aku memanggilnya, walaupun sekedar untuk meminta bola.

Aku selalu menepukkan tanganku, ketika aku melihatnya mencetak poin untuk tim kami. Memberinya dukungan.

Petang ini, aku melihatnya berjalan ke suatu kelas dimana dulu dia berada dikelas itu. Dia menenggok, menoleh kesetiap kaca. Entah apa yang ada dalam pikirannya, namun aku senang dengan hanya melihatnya. Aku bodoh.

Untuk perasaan ini, aku mengaku kalah. Aku kalah, dan dia lagi-lagi menjadi seorang yang menang. Betapa bodohnya aku. Mencintai dengan sepihak, bertepuk sebelah tangan. Haha memalukan. Namun sungguh, perasaan senang ini sangat sederhana, melihatnya melakukan sesuatu yang dulu biasa bagi kita untuk melakukannya bersama-sama, bermain basket salah satunya.

Suatu hari, aku masih berharap, untuk bisa bersama dengannya, duduk digereja, mendengarkan pujian penyembahan, dan menyembah Tuhan bersama-sama. terlalu tinggikah? Setelah terpenuhi keinginanku bermain basket dengannya, bolehkah aku menyembah Tuhan bersama-sama dengannya seperti dulu? Melayani Tuhan bersama-sama, bolehkah?